Hanya bermodalkan doa Ibu, Dito Anurogo, diaspora yang merupakan kandidat doktor di Taipei Medical University, Taiwan, berhasil adakan bootcamp berskala nasional. Ibu adalah simbol ketulusan, Cinta Kasih, pengorbanan, dan pengabdian tanpa pamrih.
Betapa kekuatan doa ibu telah mewarnai dunia, telah dibuktikan di berbagai kisah nyata di seluruh dunia. Itulah yang mendasari Dito Anurogo, dosen FKIK Unismuh Makassar, untuk nekat menyelenggarakan “Virtual Health and Writing Bootcamp 5.0”.
Tak tanggung-tanggung, kegiatan ini mampu menghadirkan para pakar di bidangnya, seperti: Prof DR. Tria Astika Endah Permatasari SKM MKM, DR Dokter Niko Azhari Hidayat Sp.BTKV, SubspVE(K), Dokter Agus Ujianto MSi Med, SpB, Letda Kes Dokter Muhammad Sobri Maulana, dan Dokter Dito Anurogo MSc PhD (Cand).
“Para narasumber itu tidak dibayar. Mereka tulus dan ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman ke masyarakat. Tujuannya untuk mencari ridho Allah, mencerdaskan masyarakat, mendukung program pemerintah tentang literasi kesehatan dan literasi digital, juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs),” jelas Ketua Komisi Kesehatan Ditlitka PPI Dunia ini sambil tersenyum ramah, Jumat (22/12/2023).
Dukungan terhadap SDGs dan berbagai program pemerintah itu terlihat jelas dari judul yang disampaikan oleh para pakar.
Transformation of Digital Health Literacy 5.0 disampaikan oleh Dokter Agus Ujianto MSi Med, SpB. Writing Books 5.0 disampaikan oleh Prof DR. Tria Astika Endah Permatasari SKM MKM.
The Art of Telemedicine 5.0 disampaikan oleh DR Dokter Niko Azhari Hidayat Sp.BTKV, SubspVE(K).
Pembuatan Laporan Kasus Berdasarkan Bukti (Evidence Based Case Report) disampaikan oleh Letda Kes Dokter Muhammad Sobri Maulana.
The Art of Nanoimmunobiotechnomedicine 5.0 disampaikan oleh Dokter Dito Anurogo MSc PhD (Cand).
Tidak hanya itu saja. Virtual bootcamp ini juga unik. Sebab tanpa sponsor dan pendanaan dari pihak manapun, kegiatan yang sukses diikuti puluhan peserta ini berhasil merekrut panitia.
Tim kepanitiaan yang terdiri dari moderator, MC, operator, desainer itu juga tidak dibayar.
“Benar, mereka bersedia meluangkan waktunya untuk mensukseskan kegiatan ini. Mereka rela mendedikasikan dirinya demi Allah semata. Saya sampai terharu,” ujar penulis The Art of Medicine serta puluhan buku lainnya ini.
Meskipun tanpa sponsor, kegiatan dengan sertifikat senilai 100 Jam Pembelajaran ini berhasil mendapatkan dukungan penuh dari Predigti (Perhimpunan Kedokteran Digital Terintegrasi Indonesia), IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Vascular Indonesia, AWMI (Asosiasi Wisata Medis Indonesia), AHT Cure, School of Life Institute, dan tentunya dari semua pihak yang masih memiliki nurani dan peduli akan kejayaan negeri.
Ya, sekarang memang bukan lagi era kompetisi, melainkan masa kolaborasi dan sinergi demi terwujudnya Indonesia jaya serta peradaban dunia yang lebih baik dan sejahtera.
(Penulis: Della Blatama, alumnus Program Magister Fakultas Biologi, Penerima Beasiswa Panasonic Scholarship 2022)
