IDI perlu membuat jalur SKP khusus untuk peneliti, seperti halnya yang telah tersedia untuk dokter militer atau manajemen rumah sakit. Selain itu, sistem digital SKP bisa diintegrasikan dengan rekam jejak penelitian, agar publikasi dan presentasi ilmiah otomatis dikonversi menjadi SKP.

Menuju Indonesia Emas 2045

Visi Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa ekosistem riset yang kuat. Di bidang kesehatan, peran strategis ini diemban oleh dokter peneliti. Mereka adalah motor inovasi medis, pionir solusi preventif, dan garda depan dalam mewujudkan ketahanan kesehatan nasional.

Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh tantangan global, peran dokter peneliti tidak bisa lagi dianggap sekunder. Sudah waktunya kita berhenti memperlakukan mereka sebagai pelengkap. Dokter peneliti adalah pilar. Pilar ilmu. Pilar masa depan.

Kini saatnya pemerintah, universitas, asosiasi profesi, dan masyarakat luas memberikan tempat yang layak bagi mereka. Bukan hanya ruang di laboratorium, tetapi juga ruang dalam kebijakan, dalam penghargaan, dan dalam struktur sistem kesehatan kita.

Jika tidak sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?

(Opini ini ditulis oleh Dokter Dito Anurogo, MSc., Ph.D., alumnus PhD dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, dosen FKIK Unismuh Makassar, peneliti di Institut Molekul Indonesia, berdasarkan Monolog Adaptif di Instagram Live bertajuk “Dokter Peneliti: Apa Kabar SKP?” bersama DR. Dokter Niko Azhari Hidayat, Sp.BTKV, SubspVE(K), FIATCVS, dosen di Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga, pada hari Jumat tanggal 30 Mei 2025. Kedua dokter tersebut telah berhasil menerbitkan buku dalam bahasa Inggris: “Digital Health Made Easy” dan “The Art of Televasculobiomedicine 5.0”.)